Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Maret 2014

Fahri Hamzah: Kenapa PDIP Marah?




Jakarta, Aktual.co — Wakil Sekretaris Jenderal PKS Fahri Hamzah merasa heran dengan reaksi dari PDIP terkait kicauannya di account Twitternya. Dalam kicauannya, Fahri menyebutkan dosa-dosa partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri ketika menjadi penguasa.

Menurut anggota Komisi III DPR RI itu, apa yang dikemukakan adalah hal biasa dalam demokrasi dimana partai maupun sosok calon pemimpin harus siap dikritik.

"Saya heran kenapa mereka kok marah sekali? Saya kan hanya mengungkapkan fakta-fakta yang selama ini sudah ada. Saya cuma mengingatkan kembali supaya kita tidak lupa dengan apa yang telah terjadi semasa kepemimpinan PDIP dulu. Dalam demokrasi kita siap menelenjangani dan harus siap juga ditelanjangi. Jangan menggunakan alasan yang justru tidak masuk logika,” kata Fahri di Jakarta, Rabu (26/3).

Dalam berdemokrasi, lanjut Fahri, masyarakat selalu diajarkan untuk melihat rekam jejak partai maupun calon pemimpin karena dengan melihat itu, kita bisa memilih partai dan pemimpin yang benar. Masyarakat tidak lagi dibodohi dengan pencitraan-pencitraan yang semua seolah pro rakyat, nasionalis dan sebagainya padahal tidak ada buktinya.

“Kalau cuma bicara visi misi, apa yang akan dilakukan semua orang bisa ngomong.Tapi kalau bicara rekam jejak, orang seharusnya tidak bicara sembarangan karena itu tercatat seperti sejarah. Partai bisa berbohong dengan visi misi tapi tidak bisa berbohong dengan rekam jejak,” tegasnya.

Anggota Komisi III DPR RI ini pun heran kenapa PDIP dan Jokowi justru berani menampilkan kebohongan, padahal faktanya jelas bertolak belakang dengan apa yang mereka sampaikan belakangan ini. Bicara nasionalisme tapi ternyata fakta rekam jejaknya justru tidak nasionalis.

“Yang justru ditampilkan justru bertolak belakang dengan apa yang mereka tampilkan saat ini. Kalau begini saya dan masyarakat secara umum kan pasti mempertanyakannya. Lah ini ngomong nasionalisme, tapi dia jual Indonsat ke luar negeri. Teriak-teriak harga gas mahal, lah ini kan karena kebijakan mereka menjual gas tangguh secara murah sehingga untuk pasar dalam negeri kita harus impor sampai hari ini,” serunya.

Namun demikian, Fahri memahami sikap PDIP yang tidak menerima kritik karena faktor pernah mengalami duka yang dalam ketika pemilu 1999 saat berhasil memenangkan pemilu dengan suara 34 persen, tapi ternyata tidak berhasil mengantarkan calon yang mereka usung (Megawati Soekarnoputri) sebagai presiden.

"Mereka mungkin masih trauma, makanya tidak mau lagi kejadian pemilu 1999 terulang dalam pemilu 2014 ini. Saat itu PDIP menang, dan saat ini juga mereka juga sudah yakin menang. Tapi kalau ternyata kalah kan mereka pusing. Itu yang mereka khawatirkan," katanya. (aktual.co)

***

Twit Fahri yang Bikin Resah si Merah

1. Dulu kau jual satelit negara kami ke Singapura melalui jualan Indosat dengan murah. #MelawanLupa

2. Dulu kau jual aset-aset kami yang dikelola BPPN dengan murah (hanya 30% nilainya) ke asing. #MelawanLupa

3. Dulu kau jual kapal tanker VLCC milik Pertamina lalu Pertamina kau paksa sewa kapal VLCC dengan mahal. #MelawanLupa

4. Dulu kau jual gas Tangguh dengan murah (banting harga) ke China (hanya $3 per mmbtu). #MelawanLupa

5. Sekarang, kau ngomong lagi soal nasionalisme, setelah kader-kader kau banyak yang korup. #MelawanLupa

6. Dan sekarang, untuk mengkatrol suaramu yang terpuruk, kini kau umpankan si "Kotak2". #MelawanLupa

7. Semoga saja, rakyat kini tak lagi terbuai oleh janji-janji manis-mu...#MelawanLupa


sumber | diulas

Beruntungnya Partai Korup di Negeri Ironisia



Kita sepatutnya mengapresiasi kerja tim Indonesia Corruption Watch (ICW) yang menyajikan data informasi korupsi di website resminya: http://antikorupsi.org/ sehingga berbagai elemen masyarakat bisa mengambil data korupsi dengan mudah, lalu membuat resume. Inilah keterbukaan informasi, sehingga semua orang bisa membuat data dan grafik sendiri “base on” himpunan berita yang ada.

Ada hal menarik, ketika ada bagian dari elemen masyarakat merilis tabel dan grafik partai korup melalui akun twitter @KPKwatch_RI, dengan dasar utama yang dipakai dalam penyusunannya adalah situs ICW. Tabel dan grafik tersebut adalah sebagai berikut:

Partai Korupsi Update Maret 2014

dan Tabel Besar Kerugian Negara:




Kemudian, Indeks Partai Korupsi berdasarkan hasil Pemilu 2009:

Partai Korupsi Update Maret 2014


Tabel dan grafik di atas juga diikuti dengan detail nama-nama politisi pada masing-masing partai. Setelah rilis tersebut tersebar luas, ternyata mendapat bantahan dari ICW melalui akun twitter @sahabatICW yang menyatakan bahwa rilis tersebut bersifat HOAX [Twit 1] dan [Twit 2].

Tidak dijelaskan, hoax-nya di bagian mananya. Namun, menurut penilaian saya, pencantuman logo ICW pada tabel dan grafik yang dibikin @KPKwatch_RI adalah tidak pada tempatnya, kecuali sebelumnya mereka berkolaborasi dalam penyusunan dan ada kesepakatan bersama.

Tim @KPKwatch_RI telah menyampaikan alasan bahwa pencantuman logo ICW adalah bentuk apresiasinya atas keterbukaan informasi yang dilakukan ICW terhadap websitenya [Twit 3]. Mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian dari prinsip / etika jurnalisme secara umum, yaitu jika mengambil bahan / data harap mencantumkan sumbernya. [Twit 4].

Itu betul, mereka telah menampilkan sumbernya, namun tidak tepat untuk pemakaian logo organisasi, ada aturan bakunya sehingga tidak sembarangan ditempatkan dalam bagian publikasi. Semoga ini menjadi masukan bagi tim @KPKwatch_RI yang telah mempunyai niat baik mencerdaskan masyarakat melalui budaya: Speak with data / fact.

Namun demikian, saya tetap mengapresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras tim @KPKwatch_RI yang membuat publikasi tersebut. Resume yang mereka himpun menurut saya BUKAN HOAX, karena sumbernya jelas, nama-nama koruptornya mudah ditelusuri [lihat daftarnya di Halaman 2 jurnal ini].

Saya coba rangkum dari chirpstory, tentang bagaimana tim @KPKwatch_RI melakukan proses pengambilan data dari website resmi ICW antikorupsi.org untuk mendapatkan tabel partai-partai korup.

Urutan prosesnya sebagai berikut:

1. Buka website ICW antikorupsi.org, di situ ada “Search” dan “Dokumen”.
2. Kemudian Download data ICW yang ada di menu “Dokumen”.
3. Ada menu “Search” yang bisa kita isi dengan 2 suku kata, maka siapkan kata pencarian 2 suku kata tersebut untuk mencari kasus korupsi pada periode tersebut. Contoh: kita search dengan kata “Bupati Korupsi”, maka akan didapat puluhan berita bupati korupsi. Coba search dengan kata “Korupsi APBD” akan muncul puluhan link berita korupsi.
4. Kemudian catat Nama, Jabatan, Kerugian negara, Kasus, Partai, Status yang ada di link hasil pencarian tersebut.
5. Kemudian pisahkan berdasarkan partai, sehingga jelas hasilnya, seperti grafik dan tabel di sini.
6. Ricek kembali nama-nama tersebut di website berita online lain untuk keakuratan data.
7. Dari ribuan berita kasus korupsi, di dapatkan 300an nama kader parpol tersangkut. Setelah dipisahkan didapatkan hasilnya seperti ini.
8. Selanjutnya dikembangkan dalam bentuk tabel atau grafik.
9. Kelemahan, ada sekitar 1-2% data yang mungkin tidak masuk, atau seharusnya tidak masuk.
10. Sangat mungkin ada nama misal: A mendapat vonis/status tersangka. Dalam prosesnya dibebaskan hakim, namun tidak diberitakan media. Jika terjadi hal demikian, mereka segera melakukan klarifikasi pemulihan. Untuk itu ditunggu masukan dari publik follower @KPKwatch_RI.

Kita perlu mengacungkan jempol atas kerja keras tim @KPKwatch_RI yang berani me-resume data dan merilisnya. Itu bukanlah hal yang mudah, perlu ketelitian karena harus bisa dipertanggung-jawabkan. Kabarnya, tim @KPKwatch_RI juga akan meneliti website http://infokorupsi.com/ untuk membuat ranking serupa sebagai pembanding. Mari kita tunggu rilisnya.

[Update 12 Maret 2014: Tim KPK Watch RI sudah merilis update grafik tersebut lebih lengkap berdasarkan hasil resume-nya pada polri.go.id, mahkamahagung.go.id, infokorupsi.go.id, kpk.go.id, korupedia.org, kejaksaan.go.id]

Jika kemudian ICW mengeluarkan rilis partai korupsi periode 2002-2014, mungkin hasil persentase tidak berbeda jauh dengan yang dimiliki tim @KPKwatch_RI. Mengingat pada tahun lalu, ICW telah merilis kondisi partai korup pada periode tahun 2013, dengan hasil sebagai berikut:


Itulah fakta tentang partai juara korupsi, sepertinya beda jauh dengan anggapan masyarakat selama ini (terutama yang rendah tingkat pendidikannya atau tidak melek internet) tentang partai korup akibat keracunan persepsi media.

Pemilu sebentar lagi, namun sampai sekarang ICW belum merilis data resume secara lengkap seperti yang dilakukan tim @KPKwatch_RI. Apakah ICW belum bisa menerima fakta bahwa partai paling korup ternyata bukan partai yang selama ini mereka persepsikan buruk, yang mereka kritik habis-habisan, tidak peduli benar atau salah sumbernya.

Ingat, dulu ICW pernah membabi buta menyerang, mendiskreditkan, dan mewacanakan pembubaran partai yang mereka persepsikan paling korup. [sila baca di sini]. Tampak ngawur sekali, tidak paham UU parpol, berwacana dengan tidak merasa perlu data dan sumber. Justru partai yang diserangnya itu faktanya malah paling buncit index korupsinya.

Oleh karena itu, mari kita dorong ICW atau KPK membuat rilis partai korup untuk masa depan RI yang lebih baik. Mari jadikan ini perhatian kita bersama agar korupsi bisa hilang dengan sebenarnya, dengan berhati-hati pada partai korup. ICW sudah ditantang tim @KPKwatch_RI untuk mengeluarkan resume data partai korup menjelang pemilu ini. Berani tidak?!

Sebelum terlalu dini bilang Hoax, mestinya ICW berterimakasih karena sudah dibantu menyusun dan me-resume data partai korup, tinggal lihat satu per satu data dari tim @KPKwatch_RI. Silakan check saja, cocokkan nama-namanya. Yang keliru diluruskan dengan baik. Jangan melihat siapa yang bicara, validasi saja datanya, tinggal googling, informasinya umum. Gampang, bukan?!

Kita semua pun juga bisa mem-validasinya sendiri, tidak harus menunggu rilis ICW. Kita mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan data yang sebenarnya tentang korupsi di negeri ini, untuk diberantas bersama-sama, tanpa pandang bulu dan tebang pilih. Sudah saatnya masyarakat luas dicerdaskan dengan data dan fakta, bukan dijebak dengan opini atau persepsi media. Tanpa penyajian data dan fakta, semua pihak akan dengan bebas melakukan penyesatan opini.

Beruntungnya Partai-Partai Juara Korupsi

Media-media corong parpol jawara korupsi sudah sering terlihat berusaha menyesatkan opini, mengeliminasi isu korupsi agar tidak terkesan berimbas pada partainya. Saat kasus korupsi terungkap, sebisa mungkin untuk tidak terlalu vulgar menyebut nama partainya. NAMUN kalau yang korupsi adalah berasal dari parpol lawan politiknya, meski masih berstatus terduga sekalipun, akan di-blow up habis-habisan oleh jaringan media partisannya, dibicarakan terus sepanjang tahun. Seakan-akan partai itulah yang paling korup, kalau perlu kehidupan rumah tangga kader-kadernya ditelanjangi, hingga mengakar buruk dalam persepsi masyarakat. Fokus di masyarakat saat ini sudah tergambar seperti ini:

Sumber gambar: FP FB Ironisia

Let’s speak with data / facts, sebab kinerja hanya bisa dinilai dengan data-data, sedangkan citra bisa dibentuk atau dihancurkan oleh opini.

Sekarang Anda sudah tahu faktanya.

Tahun 2014, Jangan Golput ya. Golput alias Golongan Putus asa sudah terbukti tidak merubah keadaan.
Bicara tentang perubahan, ada pencerahan dari Pak Ganjar Widhiyoga (kandidat doktor ilmu hubungan internasional) yang menarik untuk disimak: Apalah arti sebuah golput?


Salam hangat tetap semangat,

Iwan Yuliyanto



sumber |diulas

"PKS Ora Beres"




Ibnu Syakir

Saya akui sudah banyak akademisi yang menjadikan PKS sebagai objek penelitian ilmiah. Apakah itu untuk skripsi, thesis atau mungkin desertasi. Namun izinkan saya menguliti partai yang berlaga di pemilu 2014 bernomor 3 ini.

Sejak SMP saya lebih memilih majalah-majalah politik semisal Gatra, Tempo, Ummat dll sebagai bahan bacaan daripada majalah lainnya. Sesekali saya membeli majalah musik, pada waktu itu yang paling terkenal adalah HAI.

Dari “petualangan” saya mengamati partai politik di Indonesia sejak belum memiliki hak pilih, saya menyimpulkan PKS satu-satunya partai yang ora beres. Apa itu ora beres?

Obah

Obah adalah bahasa Jawa yang artinya “Bergerak”. PKS memang menjadi salah satu partai yang memiliki kader yang terus bergerak. Bahkan umur “obahnya” lebih tua dari partai itu sendiri. Dan yang unik, bergeraknya PKS tidak saja menjelang masa pemilu, namun kader-kadernya terus obah memberi kontribusi kepada masyarakat kala pesta demokrasi masih jauh.

Siapa yang mau obah, maka akan sehat jiwa dan raganya, begitu nasehat orang tua. Dokter pun mengatakan hal yang serupa. Jadi dapat disimpulkan PKS adalah partai yang paling sehat di Indonesia. Partai yang sehat layak menjadi pilihan rakyat.

RAsional

Di setiap momen pemilu, hampir menyertakan kisah pilu soal ketidak-warasan calon anggota dewan untuk menjemput kursi yang diimpikan. Ada yang mandi di laut, ada yang bertapa di gua, kuburan keramat dan pohon besar.

Dari beberapa orang yang tergolong sesat pikirnya itu tidak ada satu calon anggota dewan PKS yang melaksanakannya.

Di PKS rasionalitas harus dijunjung tinggi. Sehingga kerja-kerja untuk menjemput amanah ummat dilakukan dengan cara yang logis dan terstruktur. Jika dirasa sudah maksimal maka tinggal menyerahkan saja kepada Allah sebagai pemilik “cerita” kehidupan. Dan orang-orang rasional tentu sangat layak memimpin Indonesia.

BEda

Harus diakui, PKS adalah satu-satunya partai yang berbeda. Beda soal militansi kadernya. Beda cara kampanyenya. Beda kualitas kader-kadernya. Beda .. beda … akkkhhhh banyak sekali bedanya.

Namun, keunikan PKS ada yang membuat orang dengki dengan segala aktivitasnya. Saya yakin [padahal] di hati mereka mengakui kebaikan PKS, namun lisan mereka terasa berat untuk mengakui keunikan “si putih” ini. Dan tangannya seolah berat untuk menuliskan “pengakuan” hati mereka terhadap si nomor 3 ini.

Aneh memang. Dan sampai hari ini saya masih gagal memahaminya, apa karena over cinta mereka, atau karena ada sesuatu yang menyumpal mulut mereka. Padahal partai yang melekat pada dirinya perbedaaan positif sangat layak untuk menjadi pilihan rakyat bukan?

REligiuS

Ada partai yang menjadikan slogan dirinya sebagai partai “Nasionalis Religius”. Sedang PKS, tidak pernah mencantumkan kalimat religious dalam slogannya. Namun, di berbagai survey, rakyat menunjuk PKS sebagai partai yang kadernya lebih “alim”.

Jika mencari pasangan, kriteria agama menjadi kunci keberhasilan. Maka tidak lah salah bila memilih partai dan calon anggota dewannya dari partai yang memang terbukti religius bukan? Lebih tenang kata orang-orang. Selamat memilih PKS.

Jumat Barakah, 28 Maret 2014

(kompasiana)


sumber | diulas

Foto Dipakai Kampanye, Slank: "Bimbim marah-marah? itu berita gak bener"



Slank: Sejak 1991, Atribut Kami Sering Dibawa dalam Kampanye

JAKARTA, KOMPAS.com -- Bimbim, drummer band Slank, mengatakan bahwa atribut-atribut Slank sudah sering dibawa dalam kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) sejak 1991. Hal itu disampaikannya berkait dengan beredarnya foto hasil manipulasi yang memperlihatkan ia seolah mengajak para penggemar Slank atau Slankers mendukung partai politik tertentu.

"Dari (kampanye) Pemilu 1991, bendera Slank, foto Slank, suka dibawa partai. Foto Kaka dibawa partai, buat gue itu enggak masalah. Jadi, kalau ada berita Bimbim marah-marah (karena foto, bendera, atau atribut-atribut lain dari Slank dibawa dalam kampanye), itu enggak bener," kata pemilik nama lengkap Bimo Setiawan Almachzumi ini dalam wawancara di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (28/3/2014).

"Kalau foto Kaka, bendera Slank, atau foto Bang Iwan Fals dibawa dalam kampanye, itu sering ya. Kan banyak juga Slanker yang ikutan kampanye," imbuhnya.

Di luar masalah atribut-atribut Slank dibawa dalam kampanye Pemilu, Bimbim berharap para Slanker tetap menggunakan hak suaranya dalam Pemilu 2014.

"Kalau kita nyoblos, kita bisa protes, bahkan bisa ngejatuhin mereka (kalau pemimpin terpilih tak bertugas dengan baik dan benar). Kecuali kalau enggak nyoblos, jangan protes," pesan Bimbim.

sumber: KOMPAS

sumber | diulas